Jumat, 18 Juli 2014

Pulau Pasir "Dreamland", Mekko, Adonara, Nusa Tenggara Timur

Salah satu fenomena alam yang terjadi di lautan adalah terbentuknya tumpukan pasir (pasir timbul/pulau pasir) di tengah laut. Saat air laut pasang naik biasanya pulau pasir tersebut akan tenggelam (tidak terlihat di permukaan) dan baru terlihat saat air laut pasang surut. Dan salah satu “pasir timbul” yg dapat dikunjungi adalah di laut depan kampung Mekko, di timur pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur. 


Suatu hari saya diajak oleh salah seorang guru SM3T asal Manado (Natalia “Tata” Sege) yang bertugas di Kecamatan Witihama, Adonara untuk berkunjung ke tempat tersebut.
Dari Larantuka, saya menyeberang dengan perahu motor kecil dengan biaya  Rp.40.000 utk orang yang membawa sepeda motor (orang tanpa kendaraan tarif hanya Rp5.000/penumpang). Hanya  memakan waktu 5 menit  saya sudah berada di pelabuhan rakyat Tanah Merah di Adonara. Sekanjutnya saya menempuh perjalanan darat dari Tanam Merah menuju desa Pledo di kecamatan Witihama, sejauh + 50 km selama 1 jam dengan kondisi jalan sebagian besar aspal yang terpelihara baik dan di beberapa lokasi  jalan agak rusak. Setelah bertemu dengan Tata, dan dia juga mengajak seorang penduduk lokal, pak Philip Tara (Papi), kami  bertiga pun menuju ke Mekko, satu perkampungan orang Bajo yang mendiami pesisir pantai di ujung timur pulau Adonara.

Kampung nelayan Mekko


Perjalanan dari Pledo ke Mekko cukup jauh dan harus melewati jalan semenisasi, jalan tanah dan jalan setapak. Beberapa jalan sangat berdebu dan kadang berbatu-batu. Seringkali kami harus bertanya-tanya pada penduduk yang ditemui dijalan. Ada banyak persimpangan jalan setapak yang kadang membuat kami bingung dan mengandalkan “feeling so good” namun terkadang jalan yang kami lalui benar dan kadang salah sehingga harus berbalik ke arah semula dan mengambil jalan baru.  Namun dalam perjalanan ini kami dapat melihat pemandangan alam yang sangat indah.. bukit dan padang savana dan terlihat ternak kuda yg sedang merumput.
bukit dengan padang savana

padang savana dengan ternak kuda yang sedang merumput
 Bahkan kadang kami harus melewati tepi areal hutan bakau.
pantai dengan panorama hutan bakau dan bukit savana
Setelah sekitar 1 jam berjalan akhirnya kami pun tiba di Kampung Mekko. Suatu perkampungan nelayan yang penduduknya sebagian besar dari suku Bajo, Sulawesi.
Dengan menyewa kapal nelayan kecil dengan biaya Rp 100.000,- kami bertiga dengan diantar oleh 3 orang nelayan  yang adalah pemuda di kampung tersebut kami menuju pulau pasir di tengah laut. Kurang lebih 20 menit kami pun mendekati pulau pasir tersebut.  Tampak gundukan pasir yg timbul di tengah laut, seluas lapngan sepak bola namun bentuknya agak memanjang dan melengkung, pasirnya putih bersih. Dan di atasnya terlihat banyak burung camar bermain dan beterbangan. Wow.... bagaikan sebuah DREAMLAND... negeri impian.. alias hanya di mimpi2.....hehehe...

gundukan pasir (pulau pasir) di tengah laut
terlihat bayak burung camar yang bermain dan beterbangan di atas pulau pasir


Setelah dengan perahu berputar mengelilingi pulau pasir tersebut kami pun melabuhkan perahu dan kami pun mendarat  di pulau pasir.  Berasa seperti menginjakkan kaki di planet lain.... hehehe...

perahu yang mengantar kami ke pulau pasir

Kami berjalan menyusuri pasir dan bermain2 meniikmati indahnya pulau pasir; bermain air laut yang bening dan melihat pemandangan sekitarnya. Tentunya tidak lupa kami mengabadikan  momen2 spesial kami di pulau pasir dengan foto2 narsis... hehehe.. 

pulau pasir Mekko yang indah, dengan pasir putih dan air laut yang bening

pasir putih yang lembut, bersih dan air laut yang bening dan hangat...

cieee... tidak lupa foto-foto narsis

jjiiihaaaa.... aku melayang....

the girl and her footprints...
Di kejauahan terlihat dua pulau kecil yang diberi nama Watan Peni. Menurut nelayan yang mengantar kami ke pulau pasir, pulau itu mempunyai legenda tersendiri namun dilarang untuk dipublikasikan atau diceritakan karena dapat menyinggung perasaan salah satu rumpun keluarga/suku di pulau Adonara... (saya penasaran juga tentang ceritanya seperti apa..).  Juga terdapat 2 pulau lain dan yang satunya diberi nama pulau kelelawar karena terdapat banyak sekali kelelawar yg menjadikan pulau tsb sebagai rumahnya... Sayangnya kami tidak sempat berkunjung ke pulau Watan Peni dan pulau kelelawar, hanya dapat melihatnya dari kejauhan.

pulau Watan peni, yang punya legenda tersendiri.
(jika air laut surut kedua pulau ini menjadi bersambung)
Setelah kurang lebih 2 jam berada di pulau pasir, kami pun kembali ke Mekko dengan sambil menikmati panorama sunset yang sungguh indah. Dan saya pun kembali ke rumah saya di Larantuka..
Perjalanan kali ini cukup melelahkan namun terbayarkan oleh pemandangan alam dan fenomena pulau pasir yang sangat menakjubkan... Sungguh pengalaman perjalanan yang sangat menyenangkan...
Ingin suatu saat kesana lagi...


                 Ayo.... mari berkunjung ke pulau pasir, di Adonara, Nusa Tenggara Timur.. dan rasakan sensasinya...... dijamin...!!!...
               






4 komentar:

  1. Kalau 5 menit berarti di pelabuhan depan Larantuka ya pak Simon? Kayaknya ada perahu yang langsung ke sisi timur Adonara di kampung Waiwerang kan? Kalau bisa kan lumayan lebih dekat

    BalasHapus
  2. ada pelabuhan penyebrangan di ujung timur Larantka, namanya Pante Palo, hanya butuh waktu 5 menit kita sdh sampe di Tanah Merah, Adonara Barat, dan setelah itu bisa meneruskan perjalanan darat menuju Waiwadan dan desa2 lainnya di Kec Adonara Barat, Adonara tengah, kelubagolit dan ke Waiwerang. Tempat penybrangan lainnya dr Larantuka ke Adonara adalah dari pelabuhan Larantuka yg dekat pertokoan itu ke pelabuhan Tobilota, hanya memakan waktu 15 menit lalu bisa meneruskan jalan darat ke Adonara Barat atau ke Waiwerang. Sedangkan rute yg umum adalah dari pelabuhan Larantuka, dg kapal motor yg besar menuju Waiwerang dg waktu tempuh 1,5 jam.... tapi enaknya kita bisa duduk manis di kapal sambil menikmati panorama alam di sepanjang selat sempit anatar Larantuka, Solor dan Adonara...

    BalasHapus
  3. izin share abang,...semata2 untuk memperkenalkan alam flores timur...

    BalasHapus
  4. ayo bang....kita exploitasi keindahan flores timur...n khusus adonara...masih banyak yang harus di angkat selain keindahan alamnya. keanekaragaman budaya merupakan salh satu daya tarik n jgn lupa pula kuliner asli flores timur yaitu "wata Kenaen" perlu di kembangkan....

    BalasHapus