Thursday, May 28, 2015

LAMANABI, pesona alam dan biara Trappist di ujung timur pulau Flores


Kantor libur 3 hari. Berdasarkan kalender, Kamis adalah hari Kenaikan Yesus Kristus, Sabtu Hari Isra Miraj, dan Jumat sebagai hari Kejepit Nasional menjadi hari yang diliburkan dalam kalender kerja di kantor. Kesempatan berharga ini layak dimanfaatkan untuk memenuhi hobby  traveling ku. Tidak harus jauh2, sekitar Flores Timur saja... alam Lewotana (kampung halaman) ku juga indah, exotic dan masih banyak spot yang belum kita kenal dan explore.. 


So, setelah di-pikir2.. di-timbang2.. akhirnya pilihanku jatuh ke daerah Lamanabi. Apalagi beberapa bulan lalu sempat bertemu dan ngobrol cukup lama dengan Romo Michael, pemimpin biara Trappits di Lamanabi yang di akhir ngobrol kami, beliau mengundang saya untuk sesekali berkunjung menikmati  pesona alam dan kompleks pertapaan Lamanabi. Selain Romo Michael yang  adalah Pemimpin tertinggi di pertapaan Trappist-Lamanabi, saya juga sudah mengenal baik beberapa rahib yang ada di Lamanabi.. ada Frater Anton, Frater Francis dan Frater Foncis. Mereka beberapa kali bekerjasama dengan kantor kami untuk suatu kegiatan non rohani di biara tersebut




Kapel di Biara Trappist - Lamanabi


Jumat pagi itu,  saya mengajak staf kantor saya, Vitalis. Mendapat informasi bahwa kondisi separoh jalan dari Larantuka ke Lamanabi  rusak berat, kami menggunakan sepeda motor Honda Versa yang agak besar dan tinggi. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya.. tepat jam 08.00 pagi kami berangkat . 

Larantuka ke Waiklibang, ibukota Kecamatan Tanjung Bunga berjarak sekitar 28 km. Dari Larantuka sampai kilometer 16 kondisi jalan beraspal hotmix.. setelah melewati sekitar 6 km jalan rusak, berlubang  dan sedang dalam pengerjaan (semoga tidak lama lagi selesai) kami kembali melaju diatas jalan beraspal hotmix sampai ke Waiklibang, ibukota Kec. Tanjung Bunga. Di pertigaan Riangpigang, dekat kantor camat, kami mengambil ruas jalan bagian kanan untuk  menuju ke Desa Lamanabi. Memasuki jalan ini kami harus extra hati-hati... jalan yang tidak terlalu lebar, benar-benar rusak parah. Dengan kondisi jalan dan topografi wilayah yang cukup memacu adrenalin, kami harus memaksimalkan kemampuan mengendarai kendaraan. Menaiki beberapa tanjakan dan turunan yang kadang-kadang cukup extrim. Menyusuri medan ini, selain kondisi fisik kita harus sehat , kondisi kendaraan juga harus prima.  Tidak disarankan menggunakan motormatik ato mobil  dengan mesin yang tdk begitu tinggi, karena mudah terbentur dengan batu-batu jalanan. Dari Waiklibang ke Lamanabi hanya berjarak skitar  8 km kami tempuh dalam waktu hampir 1 jam... bayangkaaan..... lama skali kan....

Di sepanjang jalan mata  kita akan dimanjakan dengan panorama  yang indah... padang savana membentang luas dan alam yang natural dengan udara bersih.... Sesekali kami berpapasan dengan beberapa warga desa yang berjalan kaki membawa hasil kebunnya untuk dibawa ke Waiklibang dan Larantuka untuk dijual.. juga anak sekolah yang harus berjalan kaki skitar 8 km  untuk mengenyam pendidikan SMP/SMA terdekat yang hanya ada di ibukota kecamatan... (jiahhh...... miris.. di tempat lain letak sekolah dekat rumah kalaupun jauh bisa mennguunakan angkutan mudah atau kendaraan pribadi. Ibu-ibu berbelanja ke supermarket pake mobil mewah.. ). Sejatinya, tidak harus  sepeda motor atau mobil yang masyarakat sini butuhkan, setidaknya akses jalan yang baik sehingga memudahkan angkutan umum ataupun ojek membantu arus transportasi orang dan barang dari dan ke Desa/kota kecamatan/kabupaten.. 

Kicauan burung-burung yang beterbangan dengan warna bulunya yang indah  melengkapi perjalanan kami  (hayooo... jangan suka menembak burung ya.. mungkin saja ada satwa khususnya burung  yang endemik Flores  populasinya hampir punah, selain itu juga untuk menjaga rantai makanan dalam ekosistim alam kita.. dan tahukah kamu.. bahwa burung akan memakan buah-buahan di hutan lalu bijinya dibiarkan jatuh atau dibawa terbang dan dijatuhkan di tempat lain.. lalu akan tumbuh pohon baru  yg akan membantu menyiapkan oksigen untuk hidup kita dan untuk menangkap/menyimpan air supaya kita memiliki persediaan air yang cukup..).  Adapula rombongan ternak sapi yang sedang merumput di tenganh padang. Oiya, dua kali terlihat biawak (disini disebut “Ote”) melintasi jalan tepat dihadapan kami. Bahkan menurut yang pernah kesini, terkadang mereka berpapasan dengan babi hutan atau bertemu rusa. Ternyata keanekaragaman hayati khususnya satwa liar disini cukup banyak juga ya..
.

padang savana di Lamanabi
Hampir memasuki kompleks biara Trappist terdapat beberapa embung-embung yang cukup besar sebagai tangkapan air untuk membantu pengembangan pertanian, perkebunan dan peternakan.
embung-embung Abelen Golit di daerah sekitar Lamanabi
Kami memasuki pintu gapura di depan jalan menuju kompleks pertapaan Lamanabi. Di sisi kanan terlhat tulisan dan penunjuk arah ke pertapaan Trappist yang menjadi tujuanperjalanan kami.Dari situ sudah terasa keteduhan dan kesejukan.. banyak  pohon dan bunga yang ditanam secara rapi disisi kiri kanan jalan memasuki kompleks biara.
Kami pun tiba di biara pertapaan Trappist Lamanabi. Ternyata di depan lobby sudah ada Frater Foncy menyambut kami dengan ramahnya. Kami lalu diajak  ke ruang makan.. dan sesuai aturan di biara ini.. kami harus swalayan dalam menyiapkan makan dan minum.. kami meracik teh hangat dan menikmati pisang goreng sambil melanjutkan ngobrol-ngobrol dengan Frater Foncy. Setelah minum teh, Frater Foncy membawa kami mengelingi kompleks biara yang asri dan teduh. Kami berjalan melewati selasar dan taman-taman bunga sambil ngobrol  banyak hal tentang sejarah, aktifitas  serta fasilitas yang ada di biara ini.
Biara Trappist merupakan salah satu cabang dari keluarga besar Ordo Benediktin. Ordo ini didirikan oleh Uskup Benediktin pada abad Vi di Italia. Ordo ini melahirkan Ordo pembaharu yaitu Ordo Sistersiensis Obsevatie  (OCSO) pada abad XVII oleh Rahib Robertus., Rahib Albertus dan Rahib Stefanus Harding setelah revolusi Paerancis. Biara OSCO sering disebut juga biara Trappist karena diambil dari nama tempat pertama didirikannya biara OCSO yaitu La Trappe Italia.
Tahun 1953, OCSO masuk ke Indonesia dan biaranya berada di Rawaseneng, Jawa Tengah, yang kemudian  membuka cabangnya di Lamanabi, wilayah keuskupan Larantuka.
Lamanabi dipilih karena jauh dari keramaian, memiliki sumber air yang sangat memadai dam masih memiliki hutan belantara.
Biara ini melakukan pelayanan ke dalam dan keluar biara. Pelayanan ke dalam antara lain pelayanan doa bagi orang-orang yang memoho bantuan, serta pelayanan kamar tamu berupa pelayanan  rekoleksi, retret, konsultasi dan bimbingan rohani bagi para tamu yang datang baik perorangan maupun berkelompok.
Pelayanan keluar dalam bentuk pelayanan sosial kemasyarakatan para Rahib Komunitas OCSO Lamanabi antara lain sering mengundang masyrakat sekitar untuk melakukan kegiatan bakti sosial, antara lain merawat dan menjaga kelestarian lingkungan. Komunitas ini juga menyediakan bantuan jasa kendaraan, bantuan sembako bagi yang mengalami musibah. Bantuan pelayanan kesehatan berupa obat-obatan, bantuan dana  kesehatan bagi yang tidak mampu, bantuan dana pendidikan bagi anak dari kelurga kurang mampu.

Pertapaan Lamanabi  memiliki sebuah kapela yang yang bangunannya sangat artistik. dindingnya berbentuk bulat yang bagian luarnya di lapisi dengan batuan alam warna-warni. Atap bertentuk buat seperti kubah. Interior kapel juga dirancang dan diseting sangat artistik engikuti bentuk gedung yang membulat. Terdapat sebah altar berbentuk cawan dan bangku-bangku kayu untuk tempat duduk umat tersusun melingkar. menghadap altar. Di bagian atap yang cukup tinggi terdapat lukisan bergambar langit biru dan awan-awan.. seolah-olah kapel tersebt tanpa atap atau beratapkan langit.

Para Rahib disini lebih menekankan pada kesunyian, ketenangan dan keheningan hidup. Sehingga semua tamu yang dtang diharuskan untuk mengikuti nya. Para rahib ditekankan pada kehidupan mandiri, hidup dari usaha dan kerja keras sendiri. Tidak heran kalau semua pekerjaan mereka lakukan sendiri tanpa harus merekrut banyak karyawan. Peekrjaan rutin rumah biara mulai dari memasak, mencuci, menyapu, mengepel lantai, menerima dan melayani tamu dilakukan sendiri.
Interior kapel Lamanabi
Bagi pengunjung/tamu yang ingin melakukan kegiatan rekoleksi atau retret atau sekedar berkunjung kesini dan mau nginap disini terdapat fasilitas yang sangat memadai. Tersedia kamar2 yang sangat representatif dengan kamar mandi dalam.. suasananya seperti di hotel-hotel.. Ada 15 kamar, masing-masing terdapat 2 tempat tidur. kalo mau nginap sini bisa, dengan jasa nginap Rp 150.000/perorang/hari  included makan 3 kali dan snack 2 kali... Murah meriah kan?..Tarif anak kos tapi fasiliats bos-bos.....

bagian depan kamar-kamar yang disiapkan bagi tamu yang mau nginap di Biara Trappist Lamanabi
Selain adanya Biara Trapist di daerah Lamanabi, infomasi yang saya dapatkan sebelumnya bahwa di daerah Lamanabi terdapat air terjun. Saat saya konfirmasikan, Frater Foncy pun membenarkan. Katanya terdapat beberapa lokasi air terjun. Bahkan ada  air terjun yang cukup besar dengan debit air yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik. Sejak tahun lalu disana sedang dikerjakan pembangunan turbin pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) namun untuk sementara terhenti karena kondisi jalur kesana rusak berat dan sedang menunggu alat dari luar daerah. . Frater Foncy  menawarkan 2 orang pekerja di biara, Rafael dan Bastian, untuk mengantar saya ke lokasi air terjun tersebut. Kami harus menyusuri kebun pisang, kopi, dan ladang petani serta  sedikit hutan. Ada jalan setapak namun sudah tertutup semak. Kadang kami harus membuka jalan baru. Rafael di depan siap dengan parang/kelewang untuk menebas semak/rumput membuka jalan baru untuk kami lalui. Kami mengambil jalan pintas untuk mempercepat samapi ke tujuan. Untuk itu selain harus melewati semak belukar kami pun harus menuruni tebing curam  yang baru masih terdapat bekas-bekas longsor... harus extra hati-hati..arena kaki pijakan kurang pas bisa tergelincir jatuh ke jurang. Setelah kurag lebih 2 km kami tiba di sebuah air terjun.. indah sekali.. Air terjun Wai Tandoro, dengan ketinggian sekitar 20an meter.. memberikan pesona alam yang sangat natural. Tidak banyak yang pernah kesini sehingga masih sangat natural. Airnya jatuh memecah di batu-batu gunung di dasr jurang dan mengalirkan airnya enyusuri snugai kecil berbatu-batu. Tidak menyia-nyiakan anugerah Tuhan ini.. kami menikmati dingin dan sejuknya air terjun ini.. pegal2 karena perjalanan langsung hilang oleh “pijatan” air terjun yang jatuh di badan...pijat alternatif nih ceritanya..hehe...  

Air terjun Wai Tondora, Lamanabi

Setelah puas mandi dan jeprat-jepret... kami pun melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi air terjun yang lain. Manyusuri sungai dengan batu-batu gunung yang cukup besar. Sekitar 3oo meter dari air terjun Wai Tandoro kami menemukan sebuah air terjun yang cukup ini... Walaupun lebih keci dari Wai tandoro tapi air terjun ini terlihat lebih indah... Rafael dan Bastian, guide lokal kami juga tidak tahu apa nama air terjun ini... Saya kasinama saja “air terjun La Trappe” untuk mengingat asal-usul biara Trappist.. hehe

Air terjun "La Trappe"
Rafael dan Bastian menawarkan untuk kami melanjutkan perjalanan ke air terjun yang lebih besar, air terjun Pito Waimatan (7 mata air) disana, yang sedang dibangun turbin pembangkit listrik.. kebayang kan... pasti debit airnya besar... pesonanya menjanjikan memang... tetapi harus tracking sekitar 3 km lagi... alamakkkk....membayangkan perjalanan datang tadi sejauh 2 km lalu ke air terjun tersebut 3 km lalu kembali ke biara 5 km.... rasanya persendian tulang sudah mau lepas dari tempatnya..  Sudah ahh.... masih ada waktu.... saya pun memutuskan perjalan kami sampai disini saja.. mungkin lain kali kita bisa agendakan lagi perjalanan angsung ke sana. Sebanarnya ada jalan yang sudah dibangun yang bisa dilalui kendaraan, tetapi pada musinm hujan di buan Januari yang lalau ada beberapa bagian yang yang putus dan tidak bisa dilalui kendaraan lagi.. jadi jalan satu-satunya harus berjalan kaki... 
Kami pun memutuskan mengambil jalan lain dari jalur tadi yang kami datang. Jalur yang lebih landai. Baru sekitar 100an meter berjalan.. wah.. surprise..kami temukan lagi sebuah air terjun kecil tapi kembar. Walaupun debit air sedikit tapi suasana sekitarnya menawarkan keindahan, kesejukan dan kesegaran. Hijau nya pohon dan warna batu alami menambah keindahan air terjun bernama Wai Numo

air terjun Wai Numo
Tidak lama kami disini, kami meneruskan perjalanan untuk kembali ke biara. Harus menapaki jalan setapak di bukit kecil  dan menyusuri tebing yang tidak begitu terjal. Di tengah perjalanan, kami melewati ladang  padi yang tidak begitu luas, dan baru saja dipanen.  Terdapat sebuah  pondok  yang nama setempatnya “oring”. Di dalamnya terdapat padi hasil panen yang disimpan dalam 2 wadah besar seperti profil tank (utk air) yang terbuat dari anyaman daun pandan. Rupanya hasil kebun kali ini cukup baik.  tempat peristirahatan sementra kami untuk sedikit meluruskan otot2 yang mulai pegal lagi..

Oring = pondok di kebun
Setelah cukup bersitirahat,  kami kembali melanjutkan kembali ke Biara melintasi kebun kopi dan beberapa kebun. Kami juga bertemu warga yang sedang menggergaji pohon membuat papan dengan mesin chainsaw. Sempat ngobrol-ngobrol sejenak. Katanya pohon tersebut tumbang pada musim hujan beberapa bulan lalu. Semoga mereka tidak sengaja menebang pohon-poho yang ada... Stop ilegal logging.!!!!. hehehe...

stop ilegal loging
Dari kejauhan terdengar bunyi Lonceng, ini juga berarti tidak lama lagi kami akan tiba kembali di biara. Menurut Rafael dan Bastian, lonceng tadi menunjukkan waktu pukul 14.15 waktu akhir istirahat dimana para rahib akan melanjutkan aktifitas ibadat jam ke-9 dan para pekerja kembali ke tugasnya masing-masing. 

Setelah berjalan sekitar 500 meter, kami pun iba kembali di biara. Frater Foncy telah menunggu dan menjemput kami di lobby. Kami langsung diarahkan ke kamar makan Makan siang telah tersedia. Hmm..... capek, lapar, jauh pun terobati... Makan siang yang terberkati.  Frater Foncy menemani kami makan siang sambil bercerita tentang banyak hal. Tema cerita  adalah tentang perjalanan kami tadi, juga banyak membahas tentang perlunya menjaga kelesatian alam, kearifan lokal dan lain sebaginya. Sebagaimana aturan di biara ini,... setelah makan kami harus mencuci sendiri perlatan makan yang kami gunakan. Tak mengapa.. ini mengajarkan kami untuk bersyukur  dan bertanggungjawab... menginspirasi saya agar nanti kembali ke rumah setelah makan seharusnya langsung sendiri mencuci peralatan makan dan tidak membiarkan  begitu saja di meja dan orang rumah yang harus membersihkannya.

Hari semakin sore.  Dengan mengucapkan terima kasih yang berlimpah atas peyambutan,  keramahtamahan, pelayanan  dan kebaikan para Rahib dan pekerja di biara ini.. kami pun meninggalkan Lamanabi kembali ke Larantuka... Walaupun harus kembali melewati jalan berbatu-batu namun menjadi tak berarti dibanding apa yang telah kami nikmati selama berkunjung ke Lamanabi. Pengalaman berharga.
Semoga suatu saat dapat kembali kesini.. bertemu dengan para Rahib dan pekerja Biara Trappist yang  sangat familiar, juga untuk mengunjungi air terjun yang besar itu.. *spot prioritas traveling brikutnya*..

oiya, jika anda punya waktu lebih selain ke Lamanabi, mampirlah berkunjung ke pantai Bluhu dekat desa Lamaojan yang juga ada di Kec. Tanjung Bunga... Pantai yang bersih, indah, dan air laut yang tenang, teduh menyejukkan hati....
.

pantai Bluhu di Tanjung Bunga
Anda ingin berkunjung ke Lamanabi?.. 
Bila anda dari luar pulau Flores, kita anggap saja starting pointnya di Bali, bisa dengan pesawat ke Maumere atau Kupang. Bila turun di Maumere, anda harus melanjutkan jalan darat sekitar 3 jam ke kota Larantuka, sedangkan bila turun Kupang, bisa dengan pesawat, kapal Pelni atau kapal Fery menuju Larantuka. Selanjutnya mengikuti jalur seperti cerita saya di atas...
Ok.. smoga perjalanan anda menjadi pengalaman berharga dan menyenangkan.
....