Senin, 23 Maret 2015

Pekan Semana Santa di Kota Reinha-Larantuka

Larantuka, sebuah kota yang juga dikenal dengan nama 'Kota Reinha' atau 'Nagi Tana' merupakan salah satu kota pusat pengembangan agama Katolik di Indonesia timur khususnya di wilayah Kabupaten Flores Timur provinsi NTT. Selama lima abad lebih telah mewarisi tradisi keagamaan melalui peranan kaum awam (non klerus) pada masa silam. Pengembangan agama tersebut tidak lepas dari peranan para Raja Larantuka, para misionaris, peranan perkumpulan persaudaraan rasul awam (confreria), dan peranan semua Suku Semana serta para Kakang (Kakang Lewo Pulo) dan para Pou (Suku Lema).

Salah satu ritual agama yang terus dilakukan setiap tahun hingga saat ini adalah kegiatan "Semana Santa" dan Prosesi Jumad Agung atau "Sesta Vera". Ritual tersebut merupakan suatu masa persiapan hati seluruh umat Katolik secara tapa, silih dan tobat atas semua salah dan dosa, serta suatu devosi rasa syukur atas berkat dan kemurahan Tuhan yang diterima umat dari masa ke masa dalam setiap kehidupannya. Doa yang disampaikan maupun lagu yang dinyanyikan selama masa ini menggunakan bahasa Portugis / Latin.

Semana Santa adalah istilah orang nagi Larantuka mengenai masa menjelang hari raya Paskah yang diwarnai dengan kegiatan doa bersama (mengaji) di kapela-kapela dan tori (kapela kecil). Doa bersama diawali pada hari Rabu Abu (permulaan masa puasa) sampai dengan hari Rabu Trewa. Orang nagi Larantuka memaknai masa Semana Santa sebagai masa permenungan, tapa, sili dosa dan tobat.
Gereja Katedral renha Rosari Larantuka


Rabu Trewa
Pada hari ini selain doa dan mengaji di kapela-kapela, pada sore hari diadakan lamentasi (Ratapan Nabi Yeremia) di gereja Katedral. Lamentasi dilakukan menurut ritus Romawi jaman dahulu. Pada saat ini, Larantuka menjadi "Kota berkabung"; sunyi senyap, tenang, jauh dari hingar bingar, konsentrasi pada kesucian batin dan kebersihan hidup.

Kamis Putih
Siang hari di "Larantuka yang hening mencekam" dilakukan kegiatan "tikan turo" (menanam tiang-tiang lilin) pada sepanjang jalan raya yang menjadi rute prosesi. Tugas ini dilakukan oleh para mardomu sesuai "promesa-nya" (nazarnya). Aktivitas pada kapela Tuan Ma berlangsung dengan upacara "Muda Tuan" (upacara pembukaan peti yang selama satu tahun ditutup) oleh petugas Confreria yang telah diangkat melalui sumpah.

Selanjutnya Arca Tuan Ma dibersihkan dan dimandikan kemudian dilengkapi dengan busana perkabungan, sehelai mantel beludru warna  biru. Setelah itu kesempatan diberikan kepada umat untuk berdoa, menyembah, bersujud mohon berkat dan rahmat, kiranya permohonannya dikabulkan oleh Tuhan Yesus melalui perantaraan Bunda Maria (Per Mariam ad Jesum). Pintu kapela Tuan Ma dan Tuan Ana baru dibuka pada pagi pukul 10.00 wita.

Sesuai tradisi,  Raja keturunan Diaz Viera de Godinho yang membuka pintu kapela. Sesudah dibuka baru dimulai kegiatan pengecupan Tuan Ma dan Tuan Ana (Cium Tuan) yang berlangsung dalam suasana hening dan sakral.

Jumat Agung
Prosesi Jumat Agung merupakan perarakan menghantar jenasah Yesus Kristus yang memaknai Yesus sebagai inti sedangkan Bunda Maria adalah pusat perhatian, Bunda yang bersedih, Bunda yang berduka cita (Mater Dolorosa).

Pada hari Jumad pagi sekitar pukul 10.00 wita, ritus Tuan Meninu dari Kota Rewido digelar. Setelah berdoa di kapela, Tuan Meninu diarak lewat laut dengan acara yang semarak nan sakral. Prosesi laut melawan arus ini berakhir di Pante Kuce, depan istana Raja dan selanjutnya diarak untuk ditakhtakan pada armada Tuan Meninu di Pohon Sirih. Arca Tuan Ma pun diarak dari kapela menuju Gereja Kathedral. Pada sore hari pukul 15.00, patung Tuan Missericordia juga diarak dari kapela Missericordia Pante Besar menuju armidanya di Pohon Sirih.

Prosesi Laut dari Pantai Rowido membawa patung Tuan Meninu

prosesi Tuan Meninu melewati pelabuhan Amagarapati Larantuka

Dalam pelaksanaannya, perjalanan prosesi mengelilingi kota Larantuka menyinggahi 8 buah perhentian (armida) yakni : (1) Armida Missericordia, (2) Armida Tuan Meninu (armida kota), (3) Armida St. Philipus, (4) Armida Tuan Trewa, (5) Armida Pantekebi, (6) Armida St. Antonius, (7) Armida Kuce, dan (8) Armida Lohayong.

Prosesi patung Tuan Ma

Peziarah 
Urutan armida ini menggambarkan seluruh kehidupan Yesus Kristus mulai dari ke AllahNya (Missericordia), kehidupan manusiaNya dari masa Bayi (Tuan Meninu), masa remaja (St. Philipus) hingga masa penderitaanNya yang dengan tabah dan sabar untuk eselamatan umat manusia.

Patung Tuan Ana dikeluarkan dr Kapela Tuan Ana utk diantar menuju Katedral

Prosesi Jumat Agung

Sabtu Santo
Pada pagi hari umat mengarak kembali Tuan Ma dan Tuan Ana dari Gereja Kathedral untuk disemayamkan di kapelanya masing-masing. Juga patung Tuan Missericordia dan Tuan Meninu diarak dari armidanya kembali ke kapelanya masing-masing.

Minggu Paskah
Pada hari Minggu Paskah diadakan upacara Ekaristi Paskah di Gereja, sedangkan sorenya umat bersama irmau dan pesadu Confreria mengantar patung Maria Alleluya dari kapela Pante Kebis ke Gereja Kathedral untuk disemayamkan selama upacara ekaristi.

Selesai perayaan ekaristi, patung Maria Alleluya diarak kembali ke kapela Pantekebis; setelah pentakhtaan patung Maria Alleluyah, dilakukan acara "sera punto dama" dari para mardomu pintu Tuan Ma dan Tuan Ana yang lama kepada para mardomu yang baru. Acara "sera punto dama" juga dilakukan di Kapela Missericordia Pante Besar setelah mengaji Alleluyah selesai.

Dengan demikian, berakhirlah prosesi suci yang panjang; Semana Santa dan Sesta vera.

Prosesi Semana Santa  ini  selain di Larantuka, juga dilaksanakan di desa Konga dan desa Wureh, Kabupaten Flores Timur.



2 komentar:

  1. thanks bang Simon! buat info dan ceritanya... jadi semangat berkunjung ke Larantuka nih... mau liat ritual Semana Santa ;-) GBU

    BalasHapus
  2. Mantap abang.
    Tuan Deo kekalindo.

    BalasHapus